Manusia penakut

Belum lama rasanya… penulis berbincang bincang… kira kira tahun 2004

Kami kos di cendrawasih 2 no 64… depan minang plaza padang.. menerawang.. membuat tugas kuliah … menggambar denah kos dengan instalasi listrik nya…. kemudian… membuat denah dengan radius 2 km dari tempat kos…lengkap dengan tonggak listriknya… 

Berlahan kami sekelompok memindahkan gambar goresan survey ke kertas karkir… dengan pena grapido… 0,1 0,3 0,5..

Lelah,penat pun mulai menyapa….

Sumatera bagian tengah(perut) pun mulai… meminta…

Kepeng sudah menipis hemat hemat… 

Akhirnya kita makan dengan sambal ibu kos hehehe .. ibu kos memang baik…

Setelah itu apa yang penulis takutkan…tdk makan krn uang yang mulai menipis… dengan tugas kuliah yang….bludak….

Penulis menghela napas…

Kemudia ingat… bg kholis musisi yang kuliah sambil bekerja… yang baru pindah kos ke tempat kami…

Santai santai bg kholis… melemparkan pertanyaan…

Bung ….. apa yang ditakuti manusia di bumi ini?????

Saya melongo… 

Jawab santai aja… 

Manusia takut pada tuhan allah swt

Beliau balik betanya… kenapa masih banyak manusia yang meninggal kan shalat…berarti dia tidak takut sama tuhan allah swt…

Saya balik berfikir ….. manusia takut mati… beliau bantah lagi… 

Kenapa ada yang melakukan bom bunuh diri…. saya tersentak….

Merenung saya kalah berfikir satu langkah….

Mungkin beliau tau…. dengan wajah tersenyum beliau menjawab… manusia tidak takut pada apa yang kamu utarakan…. termasuk tuhan… allah swt pun manusia bantah dan belakangi… nauzubillah min zaliq…

Lalu manusia takut sama apa…?????

Dengan penuh kepuasan dia jawab…. ##Manusia takut ketika rasa takut itu datang…###:-)

Hahaha saya juga ketawa kecil….

Jika kita pikirkan memang betul…. tapi kenapa Allah swt menciptakan rasa takut ???????

Allah SWT menciptakan rasa takut… itu untuk melindungi ciptaannya… maka selalulah bersyukur…

Semoga pengalaman ini bermanfaat… amin

Kesadaran yang belum terlambat dari pengalaman orang lain

*Kisah inspiratif utk kita semua* 
Seorg bpk kira² usia 65 thnan duduk sendiri di sebuah lounge bandara Halim Perdana Kusuma, menunggu pesawat yg akan menerbangkannya ke Jogja. Kami bersebelahan yg hanya berjarak satu kursi kosong. Bbrp menit kmdn ia menyapa saya.
_*“Dik hendak ke Jogja juga ?”*_
_*“Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja ?”*_
_*“Iya.”*_
_*“Bapak sendiri ?”*_
_*“Iya.”*_ Senyumnya datar. Menghela napas panjang. _*“Dik kerja dmn ?”*_
_*“Saya serabutan, Pak,”*_ sahut saya sekenanya.
_*“Serabutan tp mapan, ya?”*_ Ia tersenyum. _*“Kalau saya mapan, tp jiwanya serabutan.”*_
Saya tertegun. _*“Kok begitu, Pak ?”*_
Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua org anak yg sdh besar². Yg sulung sdh mapan bekerja. Di Amsterdam. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Yg bungsu, masih kuliah S2 di USA. 
Ketika ia berkisah ttg rumahnya yg mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jkt, yg hanya dihuni olehnya seorg, dikawani seorang satpam, 2 org pembantu & seorg sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dg tisue.
_*“Dik jangan sampai mengalami hidup spt saya ya. Semua yg saya kejar dr masa muda, kini hanyalah kesia²-an. Tiada guna sama sekali dlm keadaan spt ini. Saya tak tahu hrs berbuat apa lagi. Tp saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yg selalu memburu duit, duit & duit, sampai lalai mendidik anak ttg agama, ibadah, silaturrahmi & berbakti pd orang tua.*_
_*Hal yg paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia, krn sakit kanker rahim yg dideritanya, anak kami yg sulung hanya berkirim SMS tak bisa plg mendampingi akhir hayat mamanya, gara² hrs meeting dgn koleganya dr Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali. Smntra anak bungsu saya mengabari via WA bhw ia sedang mid – test di kampusnya, shg tdk bisa pulang…”*_
_*“Bpk, Bpk yg sabar ya….”*_ 

Tdk ada kalimat lain yg bisa saya ucapkan selain itu. 
Ia tersenyum kecut. 

_*“Sabar sdh saya jadikan lautan terdalam dan terluas utk membuang segala sesal saya dik…*_

_Meski telat, saya tlh menginsafi satu hal yg paling berharga dlm hidup manusia, yakni : *Sangkan paraning dumadi.* Bukan materi sebanyak apapun. Tetapi, dr mana & hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dr Allah & kpdNya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tdk hakiki…!_  
_Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yg merana di masa tuanya….”_
Ia mengelus bahu saya & saya tiba² teringat ayah saya. Spontan saya memeluk Bpk tsb. Tak sadar menetes airmata. Bpk tua tsb jg meneteskan airmata….

*kejadian ini tlh menyadarkan aku, bhw mendidik anak tujuan utamanya hrs shaleh bukan kaya. Tanpa kita didikpun rejeki anak sdh dijamin oleh Alloh swt, tp tdk ada jaminan ttg keimanannya, org tua yg hrs berusaha utk mendidik dan menanamkannya.*
Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut² yang berserak ber-gulung² terasa diri begitu kecil lemah tak berdaya di hadapan kekuasaanNya.
*HIDUP ITU SEDERHANA SAJA. MENCARI REZEKI JGN MENGEJAR JUMLAHNYA, TP KEJAR BERKAHNYA.*
Semoga bermanfaat dan selamat beraktivitas, mudah-mudahan hari ini lebih baik daripada hari kemaren.
*_Semoga kita dapat ridho allah swt amin…._*

🙏🙏🙏🙏🙏🙏

Adap berbicara

*KAPAN KITA BICARA DAN KAPAN KITA DIAM*
Alangkah indahnya *DIAM* bila *BICARA* akan menyakiti orang lain …
Alangkah terhormatnya *DIAM*

bila *BICARA* hanya untuk merendahkan orang lain …
Alangkah bagusnya *DIAM* bila *BICARA* bisa mengakibatkan terhinanya orang lain …
Alangkah cerdiknya *DIAM* bila *BICARA* dapat menjerumuskan orang lain …
Alangkah bijaknya *DIAM* bila *BICARA* hanya untuk merugikan orang lain …
Maka pertimbangkanlah, 

kapan kita *BICARA dan kapan kita DIAM*
Jangan bicara tentang hartamu dihadapan orang miskin …

Jangan bicara tentang kesehatanmu

dihadapan orang sakit …

Jangan bicara tentang kekuatanmu

dihadapan orang lemah …

Jangan bicara tentang kebahagiaanmu

dihadapan orang yang sedih …

Jangan bicara tentang kebebasanmu

dihadapan orang yang terpenjara …

Jangan bicara tentang anakmu dihadapan orang yang tidak punya anak …
*Seorang yang BIJAK ibarat AIR* yang selalu tenang dan menyenangkan. 

Suci dan menyucikan. 

Sejuk dan menyejukkan. 

Segar dan menyegarkan. 

Lembut dan melembutkan. 
Jadilah seperti *AIR*

yang selalu mencari tempat lebih rendah …

Bermakna

*(rendah hati, tidak pernah menyombongkan diri, dan tidak pernah merendahkan atau menghina orang lain … )*
Jadilah seperti *AIR* yang selalu memberi kehidupan bagi apapun dan siapapun

😇🙏🏻